Ekowisata Boon Pring Sanankerto, Turen; Dari Mitos menjadi Logos

0
760

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Suasana di ruangan ber-AC pun cukup dingin. Tapi ratusan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), masih terlihat antusias mendengarkan presentasi salah seorang Kepala Desa, yang berhasil mengembangkan ekowisata di desanya, dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas TAPM pada Program Inovasi Desa, di Surabaya, Jum’at (10/8/16).

Adalah Boonpring, Sentra Bambu di Desa Sanankerto, Turen, Malang, yang menjadi Desa wisata berbasis ekowisata. Sang Kepala Desa, Mohammad Subur, berhasil mengembangkan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan masyarakat serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

“Karena 2015 sudah ada trend wisata alam, saya coba berfikir, bahwa hutan bambu ini tetap dalam kondisi baik untuk irigasi, juga berfungsi sebagai konservasi alam,” ungkapnya, di hadapan ratusan TAPM Kementerian Desa PDTT.

Apa yang dilakukan oleh Mohammad Subur, tentu tidak sekali jadi. Ia bukanlah pesulap, yang sekali berucap mantra abra-kadabra langsung jadi. Butuh waktu lama, agar ikhtiar menjaga lingkungan dapat dilakukan, serta pariwisata dapat dijalankan.

Subur mengaku, masyakat Desa awalnya hanya sekadar mengambil bambu untuk kayubakar serta membuat gedek sebagai dinding rumah. Nyaris tak ada yang berfikir, bagaimana mengembangkan potensi yang ada. Bahkan, embung yang ada juga dibiarkan begitu saja, hanya untuk irigasi serta bertanam selada air.

Untuk memulai semuanya, Subur tak mungkin sendiri. Ia menggandeng semua pihak yang memiliki kepedulian. Bersama Pendamping Desa, yang berada di bawah naungan Kementerian Desa, ia mulai memetakan potensi di Desa. Tokoh pemuda dan masyarakat, ia kumpulkan. Musyawarah Desa ia laksanakan. Grebeg tumpeng, yang memang biasa dilakukan setiap tahun, ia kemas dengan Grebeg 1001 Tumpeng. Embung yang sudah penuh endapan lumpur, ia keruk. “Butuh dua bulan untuk membersihkan sedimentasinya”, ungkap Subur.

Menyaksikan semuanya, seluruh komponen masyarakat menjadi tertarik. Masyarakat Desa termotivasi untuk bersama-sama memajukan wilayahnya. Publik pun terhenyak. Bahkan, berbagai tawaran bantuan, datang. Pejabat daerah, Perguruan Tinggi hingga perbankan, turun ke Desa Sanankerto. Hal ini tentu membuat sang Kades, Mohammad Subur, merasa tidak sendiri. “Banyak yang akan membantu. Blogger datang. YouTuber datang,” ucapnya, bangga.

Keberhasilan menyadarkan masyarakat, tak hanya berdampak terhadap hijaunya Desa Sanankerto. Masyarakat kiat solid. Pohon bambu yang tinggi menjulang tumbuh kuat mengakar. Ini yang membuat Desa Sanankerto berubah cepat. Tak hanya pendapatan masyarakat yang bertambah, lantaran buruh tani juga berjualan di warung-warung sekitar Boonpring, tapi juga Pendapatan Asli Desa (PADesa) meningkat pesat.

Dari PADesa ini, Desa Sanankerto berhasil memberikan insentif untuk RT/RW, anak-anak dari keluarga tidak mampu yang memiliki prestasi, juga mendapatkan beasiswa. Tak tanggung-tanggung, beasiswa yang diberikan tersebar di 3 Sekolah Dasar (SD) yang ada di Desa. Ini sungguh pencapaian yang luar biasa. “Laporan dari para guru, anak-anak dari yang mendapatkan beasiswa, mengalami peningkatan nilai,” ungkap Subur, yang memberikan beasiswa sejak 2017 lalu.

Subur berharap, Dana Desa yang nominalnya meningkat tiap tahun, digunakan secara maksimal untuk pembangunan dan pemberdayaan. Semua itu, menurutnya, harus berbasis pada kebutuhan masyarakat. Subur mengaku, memang tidak mudah untuk melaksanakan kegiatan yang kesemuanya berorientasi untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

“Ya, kalau cari aman, gak usah ada inovasi. Dana Desa dan ADD habiskan saja untuk sarana dan prasarana. Aman, tidak ada konflik, dan tetap akan jadi kepala Desa,” ungkapnya, yang pada awal-awal melakukan inovasi Boon Pring, sempat ada penolakan dan konflik.

Desa Sanankerto, menurut Subur, awalnya merupakan Desa miskin, yang selalu menjadi langganan program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Ini dikarenakan Sanankerto merupakan Desa terisolir, yang untuk keluar masuk Desa harus melewati sungai. Bahkan, Subur mengaku, jika hendak ke sekolah, anak-anak harus melepas sepatunya. “Tempat saya belum ada jembatan, sehingga anak-anak sekolah harus lepas sepatu. Padahal tempat lain sudah maju,” kenangnya.

Mohammad Subur sadar, bahwa perubahan luar biasa yang terjadi di Sanankerto tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Ia pun mengaku, jika selama ini, ia bekerja tak sendiri.

“Desa butuh pendampingan. SDM Kepala Desa itu juga terbatas. Jika tidak ada Pendamping Desa, kita akan kelabakan. Kami merasakan betul, hadirnya Pendamping dari Kementerian Desa ini sangat luar biasa manfaatnya. Bahkan, masyarakat saya ada yang lebih percaya kepada para Pendamping,” ungkapnya, senang, karena sinergi yang terbangun dengan para Pendamping Desa, sudah terlaksana dengan baik.

Subur tidak mengingkari, titik krusial yang sering dihadapi Desa adalah, tidak semua Desa berani melakukan inovasi. Karenanya, lanjut Subur, dibutuhkan semangat dan keberanian seorang pemimpin. “Mengabdikan diri tanpa batas, siap menjadi penggagas masa depan, serta bisa menjembatani konflik internal, adalah tugas seorang Kepala Desa,” pungkasnya.

Perkembangan ekowisata berbasis bambu di Desa Sanankerto, sangat menarik dicermati. Maulana Sholehoddin, Tenaga Ahli Madya (TAM) Konsultan Pendamping Wilayah (KPW) IV Provinsi Jawa Timur, menjelaskan, perubahan paradigma (shifting paradigm) telah dialami oleh masyarakat Desa. “Ini menujukkan, sudah ada perubahan paradigma, dari mitos menjadi logos”, ungkapnya.

Maulana mengatakan, pada jaman dulu, sesepuh bangsa ini harus menggunakan mitos untuk merawat sumber mata air yang ada. Misalnya, mata air yang dimitoskan membuat awet muda, pasti akan dijaga hingga turun-temurun. Tapi hari ini, lanjut Maulana, untuk merawat sumber mata air, sebagaimana terjadi di Desa Sanankerto, logos memiliki peranan penting.

“Makanya, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Desa, menurunkan Pendamping Desa, agar terjadi perubahan paradigma, dari mitos menjadi logos”, jelas Maulana.

Ke depan, lanjut Maulana, para Pendamping Desa, harus terus menjelaskan Undang-Undang Desa, harus melakukan pemetaan dan optimalisasi aset desa, sehingga masyarakat kian sadar akan pentingnya merawat dan melestarikan petensi alam yang ada. Misalnya, merawat sumber mata air. Jika ini terus terjadi, pemahaman akan menjaga potensi alam kian menyebar luas, maka lanjut Maulana, peningkatan ekonomi masyarakat dan Desa, sebagaimana dialami masyarakat Desa Sanankerto, akan semakin merata dan menyebar di seluruh pelosok Nusantara. [Andiono Putra]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here